Film ini menceritakan tentang para
penguasa- penguasa baru di dunia ini. Mereka adalah para pengusaha- pengusaha
kaya yang memiliki pabrik- pabrik di Negara berkembang, contohnya Indonesia. Globalisasi
adalah proses pengintegrasian ekonomi nasional kepada sistem ekonomi dunia
berdasarkan keyakinan pada perdagangan bebas. Dimana dunia globalisasi justru
menjadikan kaum kapitalis untuk
menguasai dunia di Negara berkembang seperti Indonesia. Globalisasi yang
didengungkan oleh negara- negara barat bahwa akan membawa kemakmuran bagi umat
manusia ternyata hanya membawa jurang pemisah antara orang kaya dengan orang
miskin. Mereka menanam modal di Indonesia dengan investasi yang sangat besar,
dan mendirikan pabrik- pabrik yang besar seperti GAP, Nike, Adidas, Old Navy,
dan Reebok, tetapi dari situlah mereka justru memperbudak buru- buru mereka
dengan upah yang sangat rendah walaupu mereka bekerja 24 jam.
Para buruh murah ini bertahan dengan
keadaan yang ada demi kelangsungan hidup. Kesenjangan ini ditandai dengan
jauhnya upah yang mereka terima dengan harga produk yang mereka hasilkan.
Contohnya, dari produk seharga Rp 112 ribu, mereka hanya mendapat Rp 500.
Apalagi dari produk seharga Rp 1,4 juta, mereka mendapat Rp 5 ribu. Tak heran
apabila ada data menyebutkan bahwa lebih dari 70 juta masyarakat Indonesia
adalah miskin. Akan tepai para pengusaha mau membayar pemain golf ternama dunia
Tiger Wood dengan bayaran yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan upah
seluruh buruh Nike di Indonesia.
Fenomena ini membuat Bank Dunia dan IMF
mengambil alih perekonomian Indonesia. Mereka berkedok untuk pembangunan global
dan memerangi kemiskinan dengan cara memberi pinjaman kepada negara berkembang
untuk memperbaiki perekonomian negara itu. Pinjaman ini memiliki syarat yaitu,
negara yang member pinjaman boleh memasuki sistem ekonomi negara berkembang dan
mengolah bahan mentahnya. Pada akhirnya, cara ini membuat negara berkembang
tetap terperangkap dalam kemiskinan. Hal ini dimulai saat presiden Soaharto berkuasa, yang dengan
begitu muda mengijinkan para kapitalis asing menguasai perekonomian Indonesia,
yang mengambil pinjaman dari IMF, tapi justru dari situlah Indonesia terperangkap
dalam lilitan utang yang sangat besar, apalagi pada saat krisis moneter
menghantam Indonesia pada tahun 1998 utang Indonesia justru makin membengkak
karena inflasi yang sangat tinggi.
Tidak sedikit negara yang sudah tidak
mampu membayar utang, sehingga sekarang mereka hanya bisa melunasi separuhnya
atau hanya mampu melunasi bunganya saja. Jika 50% dari hutang mereka
diputihkan, itu hanya berarti mereka harus membayar 100% dari 50% yang tersisa.
Tidak ada gunanya untuk negeri yang berhutang, tetapi lembaga-lembaga finansial
di barat bisa pura-pura bermurah-hati.
Kalau begitu apakah efek dari
globalisasi, dan siapa penerima mamfaat dari ekonomi global, apakah pemerintah
atau segelintir perusahaan besar.yang justru membuat yang kaya semakin kaya,
dan orang miskin semakin miskin. Contohnya saja di sebuah pesta nikah orang
kaya di Jakarta yang sangat mewah, padahal seorang pelayan di pesta tersebut
harus bekerja 400 tahun untuk membiayai pesta tersebuat jika dibandingkan
dengan gajinya. Dalam konteks ini saya berpen dapat bahwa, “globalisasi dapat
dikatakan sebagai bentuk imperialisme baru, menjajah tidak secara fisik tetapi
dalam bentuk lain”.
Download : The New Rules of The world
Tidak ada komentar:
Posting Komentar