1.28.2012

Film : The new Rules of the world


Film ini menceritakan tentang para penguasa- penguasa baru di dunia ini. Mereka adalah para pengusaha- pengusaha kaya yang memiliki pabrik- pabrik di Negara berkembang, contohnya Indonesia. Globalisasi adalah proses pengintegrasian ekonomi nasional kepada sistem ekonomi dunia berdasarkan keyakinan pada perdagangan bebas. Dimana dunia globalisasi justru menjadikan  kaum kapitalis untuk menguasai dunia di Negara berkembang seperti Indonesia. Globalisasi yang didengungkan oleh negara- negara barat bahwa akan membawa kemakmuran bagi umat manusia ternyata hanya membawa jurang pemisah antara orang kaya dengan orang miskin. Mereka menanam modal di Indonesia dengan investasi yang sangat besar, dan mendirikan pabrik- pabrik yang besar seperti GAP, Nike, Adidas, Old Navy, dan Reebok, tetapi dari situlah mereka justru memperbudak buru- buru mereka dengan upah yang sangat rendah walaupu mereka bekerja 24 jam.
Para buruh murah ini bertahan dengan keadaan yang ada demi kelangsungan hidup. Kesenjangan ini ditandai dengan jauhnya upah yang mereka terima dengan harga produk yang mereka hasilkan. Contohnya, dari produk seharga Rp 112 ribu, mereka hanya mendapat Rp 500. Apalagi dari produk seharga Rp 1,4 juta, mereka mendapat Rp 5 ribu. Tak heran apabila ada data menyebutkan bahwa lebih dari 70 juta masyarakat Indonesia adalah miskin. Akan tepai para pengusaha mau membayar pemain golf ternama dunia Tiger Wood dengan bayaran yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan upah seluruh buruh Nike di Indonesia.
Fenomena ini membuat Bank Dunia dan IMF mengambil alih perekonomian Indonesia. Mereka berkedok untuk pembangunan global dan memerangi kemiskinan dengan cara memberi pinjaman kepada negara berkembang untuk memperbaiki perekonomian negara itu. Pinjaman ini memiliki syarat yaitu, negara yang member pinjaman boleh memasuki sistem ekonomi negara berkembang dan mengolah bahan mentahnya. Pada akhirnya, cara ini membuat negara berkembang tetap terperangkap dalam kemiskinan. Hal ini dimulai  saat presiden Soaharto berkuasa, yang dengan begitu muda mengijinkan para kapitalis asing menguasai perekonomian Indonesia, yang mengambil pinjaman dari IMF, tapi justru dari situlah Indonesia terperangkap dalam lilitan utang yang sangat besar, apalagi pada saat krisis moneter menghantam Indonesia pada tahun 1998 utang Indonesia justru makin membengkak karena inflasi yang sangat tinggi.
Tidak sedikit negara yang sudah tidak mampu membayar utang, sehingga sekarang mereka hanya bisa melunasi separuhnya atau hanya mampu melunasi bunganya saja. Jika 50% dari hutang mereka diputihkan, itu hanya berarti mereka harus membayar 100% dari 50% yang tersisa. Tidak ada gunanya untuk negeri yang berhutang, tetapi lembaga-lembaga finansial di barat bisa pura-pura bermurah-hati.
Kalau begitu apakah efek dari globalisasi, dan siapa penerima mamfaat dari ekonomi global, apakah pemerintah atau segelintir perusahaan besar.yang justru membuat yang kaya semakin kaya, dan orang miskin semakin miskin. Contohnya saja di sebuah pesta nikah orang kaya di Jakarta yang sangat mewah, padahal seorang pelayan di pesta tersebut harus bekerja 400 tahun untuk membiayai pesta tersebuat jika dibandingkan dengan gajinya. Dalam konteks ini saya berpen dapat bahwa, “globalisasi dapat dikatakan sebagai bentuk imperialisme baru, menjajah tidak secara fisik tetapi dalam bentuk lain”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar